Sevel, I’m In Love: Sebuah Studi Segmentasi Pendengar Lagu Anda

Telah lama saya mendefinisikan lagu hits atau pop sebagai the music young kids dance to (musik yang membuat anak muda berdansa). Secara analisis pasar pun, segmentasi usia muda merupakan penggerak musik utama; selera mereka menentukan siapa yang berada di posisi jawara tangga lagu termutakhir. Sehingga, penting bagi kita sebagai penulis lagu (ketika kita ingin membidik segmentasi pasar muda) untuk mengetahui tentang kehidupan anak muda ini.

Salah satu aspek kehidupan anak muda yang bisa langsung kita lihat adalah tempat nongkrongnya. Setiap sub-kebudayaan memiliki asosiasi geografisnya masing-masing: mereka yang suka dengan musik ska dan punk cenderung bermain di area yang juga luas untuk skateboarding; anak muda yang doyan ajojing dan bergaya hidup dugem bisa ditemukan beramai-ramai di night club; dan anak muda yang ingin eksis tetapi tetap berhemat sesuai kapasitas finansial, untuk saat ini banyak ditemukan bergaul di salah satu rantai toko mart besar di ibu kota: 7-Eleven. Atau istilah gaulnya: Sevel.

♫ Kutemukan Cintaku di Sevel ~♫

Kalau Anda berdomisili di Jakarta, tentunya Anda pernah melihat setidaknya salah satu outlet Sevel ini (saya tidak tahu apakah ada di luar Jakarta atau tidak). Dan selalu saja, khususnya ketika malam, outlet Sevel ramai dikunjungi oleh anak muda yang sedang nongkrong, entah itu sepulang sekolah, bersantai dengan teman, atau “kabur” dari rumah dan bergaul hingga pagi hari. Terlepas dari latar belakang yang menjadikan mereka pengunjung berat Sevel, sebagai penulis lagu kita bisa menarik hikmah dari fenomena sosial ini dan menciptakan sebuah soundtrack bagi mereka yang kehidupannya diwarnai oleh kehadiran rantai toko mart ini.

Bagaimanakah Anda akan menciptakan lagu, seandainya Anda mengincar segmentasi demografi para pengunjung Sevel? Genre apa yang akan Anda gunakan, beserta instrumentasinya? Bagaimana dengan tempo, groove, lirik, dan pesan yang ingin Anda sampaikan ke para pengunjung Sevel; apakah lagu tentang having fun bersama teman-teman atau Sevel sebagai tempat menemukan jodoh?

Inilah yang disebut dengan mempelajari gaya hidup segmentasi pendengar kita. Seringkali, kita menulis lagu hanya untuk diri kita sendiri (yang tentunya juga OK dan bisa tetap menghasilkan lagu hits). Tetapi dengan menulis lagu untuk sebuah audiens yang spesifik, kita meningkatkan kemungkinan lagu kita diterima dengan sangat baik oleh audiens tersebut, karena mereka merasa dihargai, dimengerti, dan didengarkan.

Tentunya, saya sendiri merasa lagu “Sevel, I’m In Love” lebih cocok dinyanyikan oleh band rock muda, seperti yang sudah saya sarankan ke seorang teman dan murid saya.

7-Eleven (Foto: Eka Septiana)

Foto: Eka Septiana

This has a huge potential for a hit, guys.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s