“It’s 30.000.000 B.C – all the good stories have been told.”
Itulah dialog yang diucapkan seorang tokoh dalam iklan kartun “The Flintstones” yang saya dengar kemarin siang saat menemani keponakan saya menonton Disney Channel. Terjemahannya adalah, “Sekarang tahun 30.000.000 S.M (Sebelum Masehi) – semua kisah yang bagus sudah diceritakan.”
Kalau Anda seorang penulis cerita atau novel, Anda akan mengerti maksud dari lelucon dialog di atas. Banyak penulis yang berpendapat (dan mengetahui) bahwa sebenarnya kisah-kisah yang diceritakan masa sekarang sama dengan kisah-kisah yang diceritakan di masa lalu. Tema cinta telah dibungkus dalam latar belakang, adegan, konflik, serta drama yang bermacam-macam untuk memuaskan nafsu makan seluruh bangsa sepanjang sejarah: mulai dari “Romeo and Juliet” yang diadaptasi menjadi berbagai versi (termasuk versi Bang Romi dan Neng Juleha), hingga karya-karya sastra klasik yang diangkat menjadi film layar lebar versi modern (sekarang Romeonya naik Harley pergi ke apartemennya Juliet dan naik elevator, bukan lagi naik kuda bawa-bawa tangga buat manjat dinding kastil).
Seperti contoh Romeo dan Juliet di atas, kita bisa menemukan banyak contoh karya-karya klasik yang diangkat atau di daur ulang agar lebih sesuai dengan keadaan masyarakat modern. Selain karya sastra, karya musik pun juga ada yang di daur ulang, baik itu musik klasik seperti “Canon in D” yang memiliki progresi kord yang sangat familiar dan banyak digunakan di musik pop masa sekarang, maupun musik relatif baru yang hadir kembali di setiap generasi, seperti musik The Beatles yang dibawakan dengan aransemen jazz, bossa nova, dsb.
Cerita Masa Sekarang
Kembali ke nasihat di atas, pertanyaan yang perlu kita ajukan sebagai penulis lagu adalah, “Kalau ya dari tahun 30.000.000 S.M saja semua cerita bagus sudah diceritakan, lalu apa yang akan kita ceritakan sekarang?”.
Kabar baiknya adalah: ceritakan yang sudah pernah diceritakan
tapi, kita harus melakukannya dengan cara yang kontemporer (sesuai masa kini).
Saya setuju karya budaya di daur ulang, karena generasi yang datang setelah generasi kita perlu dikenalkan dengan budaya yang menjadi akar budaya mereka nantinya. Selain budaya merupakan potret sejarah yang sering lebih jujur dibanding fakta-fakta dalam buku sejarah, budaya juga menjelaskan rangkaian perubahan pemikiran manusia sehingga menghasilkan keadaan masyarakat masa sekarang.
Namun, generasi masa sekarang memiliki segala sesuatu yang berbeda dalam gaya, tetapi sama dalam prinsip. Sehingga penting bagi penulis lagu tetap bertahan pada prinsip yang sama, tetapi dengan gaya yang sesuai dengan generasi masa sekarang. Penting bagi penulis lagu memahami bahasa yang digunakan generasi sekarang, untuk mengatasi permasalahan yang pada hakikatnya adalah permasalahan yang sama dengan generasi-generasi sebelumnya.
Pekerjaan rumah: lagu-lagu Anda mencoba menyelesaikan permasalahan apa? Apakah Anda menggunakan pendekatan yang kontemporer dan relatif dengan generasi masa sekarang? Mari diskusikan di bagian komentar di bawah: